Skip to content

Keutamaan Membaca Al Qur’an

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Al Qur’an adalah kalamulloh yang keasliannya tetap terjaga sampai akhir zaman. Tak ada satu kitab pun saat ini yang terpelihara sebagaimana terpeliharanya Al Qur’an dari penyimpangan. Alloh SWT sendiri yang menjamin ini semua. Salah satu mu’jizat/kelebihan Al Qur’an adalah terjaganya Al Qur’an di dalam rongga dada pra penghapalnya. Ribuan bahkan jutaan orang dalam setiap masa menghapal Al Qur’an seluruhnya. Bandingkan dengan sesuatu yang dianggap kitab suci. Adakah para penghapalnya?

Jangankan membaca dan mengamalkannya, memandang dan menyentuhnya pun sudah termasuk ibadah. Mazhab Syafi’ie mempersyaratkan suci dari hadats kecil untuk dapat/boleh menjamahnya. Meletakkannya serta mebawanya dengan penuh takzim dan penghormatan. Karena memang seperti itulah selayaknya pengangungan Kalamulloh. Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri mazhab Hambali) mendapat ujian dan siksaan karena tidak mau menyebut Al Qur’an sebagai makhluk.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Al Qur’an kelak akan menjadi pembela (memberi syafaat) bagi mereka yang membacanya. Dalam hadits lain disebutkan bahwa sebaik-baik ummat Nabi Muhammad SAW adalah mereka yang belajar Al Qur’an dan yang mengajarkannya dan beberapa hadits lain yang semisal dengannya. Namun sayang kadang orang lupa dan melupakan Al Qur’an. Interaksi dengannya sangat minim atau bahkan sangat jarang. Al Qur’an hanya diperlukan ala kadarnya. Rutinitas harian jarang disertai dengan alunan/bacaan Al Qur’an. Manusia lebih banyak menghapal puisi/lagu ketimbang Al Qur’an. Lebih sering membaca berita koran daripada Al Qur’an. Suka tidak suka, Al Qur’an benar2 menjadi barang yang disepelekan. Inna qawmi ittakhodzu al Qur’ana mahjuuro (Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an sesuatu yang tidak diacuhkan) adu Nabi kepada Rabbnya.

Sebenarnya adakah kita yang enggan membaca Al Qur’an, atau sejatinya Al Qur’an lah yang enggan disentuh oleh kita?

Cuplikan ceramah yang direkam dari siaran radio streaming RASFM pada hari Selasa tanggal 8 Juni tahun 2010. Semoga bermanfaat

Shalawat Atas Nabi Muhammad SAW

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Bershalawat adalah satu perintah yang termaktub dalam ayat Al Qur’an. Orang yang paling banyak bershalwat adalah yang paling dekat dengan Rasul di yawmil akhir. Perintah untuk memperbanyak shalawat wa bil khusus di hari Jum’at adalah masyhur adanya. Hanya sanya shalawat khusus untuk Nabi Muhammad SAW. Tidak ada seorang Nabi pun -hatta Nabiyalloh Musa ‘alayhis salam- yang ummatnya melakukan shalawat dari masa hidupnya terlebih ketika wafat.

Orang yang bershalawat hakikatnya adalah untuk kebaikan dirinya bukan untuk Nabi Muhammad SAW. Sebab kedudukan dan posisi Nabi Muhammad tetap agung dan mulia meskipun orang bakhil melantunkan shalawat. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa beliau sendiri menjawab setiap shalawat dari ummat, meskipun beliau telah tiada. Sebab Alloh mengharamkan tanah melumat jasad para Nabi. Orang yang menemui syahid di jalan Alloh saja terjaga jasadnya dari cacing tanah, apatah lagi jasad Nabi yang tentu lebih mulia dari jasad para syuhada.

Perbanyaklah membaca dan perbaguslah shalawat kita. Kalau pun belakangan ada sekelompok orang yang membid’ahkan shalawat diluar yang diajarkan dan memvonis pembacanya sebagai pelaku bid’ah dan musyrik, biarkanlah. Doakan semoga Alloh bukakan hati dan difahamkan ilmu yang mereka belum ketahui. Kekerasan mereka lebih karena kejahilan akan ilmu yang amat luas ini.

Mengenang Almarhum

Kampung Bali Matraman 1974. Beberapa saat sebelum adzan Subuh dikumandangkan oleh seorang mu’adzin di Masjid Al-Barkah, lelaki tua berbaju koko putih dan berkopiah haji itu telah duduk bersila di mimbar masjid. Betapa khusuknya ia mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bibirnya melafazkan Asmaul Husna. Tubuhnya yang tegap merunduk. Matanya berkaca-kaca. Ia memohon kepada Allah agar perjuangannya mencerdaskan bangsa dapat terlaksana dengan baik.

Lelaki itu siapa lagi kalau bukan K.H.Abdul Syafi’ie. Kiprahnya dalam menyiarkan agama Islam di Indonesia memang sudah tidak asing lagi. Tokoh Betawi kelahiran Kampung Bali Matraman, 10 Agustus 1910, ini sering melakukan dakwah, baik di Perguruan As-Syafi’iyah yang dirintisnya sejak tahun 1930 maupun berbagai pelosok Tanah Air. Kehadirannya tentu saja selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat dari berbagai lapisan serta para ulama yang mengundangnya Ceramahnya di Radio Dakwah As-Syafi’iyah yang didirikannya pada tahun 1967, juga tak lepas dari telinga masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Dunia pendidikan pun menyatu dalam dirinya. Melalui Perguruan As-Syafi’iyah, ulama yang kerap dipanggil H. Dulah ini, berusaha memberikan pendidikan agama semaksimal mungkin kepada para santri. Makanya, tak heran, jika sebagian santri yang diasuhnya puluhan tahun kemudian menjadi ulama terkenal.

Kedisiplinan menuntut ilmu serta menjalankan ibadah yang diterapkan H. Dulah kepada para santri memang tidak tanggung-tanggung. Ini tentu pernah dialami bagi siapa saja yang pernah mondok di perguruan tersebut. Kesan yang mendalam terjadi ketika beberapa menit sebelum melaksanakan shalat Subuh. Saat-saat seperti itu, H. Dulah selalu membangunkan para santri serta guru-guru yang tinggal di kompleks perguruan tersebut.

Ketika pintu tempat pemukiman diketuk-ketuk dengan keras, para santri sudah tahu kalau yang mengetuk-ketuk itu pasti Pak Kiyai. Ini memang pengalaman yang menarik bagi para santri. Bagi santri yang gampang bangun setelah mendengar ketukan pertama atau sudah terbiasa bangun sebelum Pak Kiyai membangunkan tentu saja buru-buru pergi ke kamar mandi. Tapi, bagi yang kebluk, ini yang menjadi keprihatinan Pak Kiyai.

Read more…

Bid’ah-bid’ah yang baik

Oleh: Zen bin Abdullah Ba’abud

Bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada pada zaman rasulullah SAW. Banyak dari kalangan awam mengatakan, bahwa semua Bid’ah adalah perbuatan yang haram dan dilaknat oleh Allah. padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Menurut Al Imam Syafii ra, Bid’ah  dibagi menjadi dua yaitu bid’ah mahmudah, atau bid’ah yang baik dan Bid’ah madzmumah,  bid’ah yang dilarang. Sedangkan bid’ah-bid’ah yang baik diantaranya adalah:

1.Peringatan Maulid Nabi SAW

Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati pertama kali pada masa Sayyidina Jakfar Asshadiq ra. Mereka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW  dan memperingati hari kelahiran keluarga Beliau SAW. Hal ini dianggap suatu Bid’ah yang sesat oleh kaum Wahhabi atau Salafi.

Padahal isi dari perayaan maulid Nabi SAW sama sekali tidak bertentangan dengan Syariat Islam, yang mana didalamnya dibacakan riwayat hidup Rasulullah SAW dan banyak dilantunkan Shalawat kepada Beliau SAW, dan Allah sendiri telah berfirman: innallaha wa malaikatahu yushoolluna ala nabi ya ayyuhal ladzina amanu shallu alaihi sallimu taslima.yang artinya: sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada Nabi SAW, wahai orang-orang yang beriman bershalawat dan salamlah kalian kepadanya.

Sudah jelas  bahwa bershalawat sangatlah dianjurkan oleh Allah untuk orang-orang yang beriman. Sedangkan inti dari perayaan Maulid adalah mengenang riwayat hidup Beliau SAW dan pembacaan Shalawat  kepada Beliau SAW. Adapun orang yang mengatakan bahwa peringatan Maulid dilarang karena dilakukan bersama-sama, sedangkan Rasullallah SAW tidak pernah melakukanya. Apakah suatu amalan yang apabila Rasulullah tidak pernah melakukanya maka hal itu menjadi haram? Apabila kaidah ini benar, maka shalat dengan memakai celana panjang, serta melipat bagian bawahnya, atau shalat dengan menggunakan baju koko, atau mengundang walimah dengan suguhan nasi soto, rawon, nasi kuning, beserta lauk tempe, perkedel, dll, semuanya menjadi haram hukumnya, karena Rasulallah tidak pernah melakukanya,  sedang orang-orang yang mengatakan dirinya anti Bid’ah sendiri justru banyak yang melakukanya.

Apalagi dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW fokus amalannya pada bacaan shalawat Nabi. Yang jelas, seandainya Beliau tahu ummatnya melakukan hal ini pasti akan sangat senang, karena  ummatnya selalu mengenangnya dan bersholawat kepadanya. Kaarena di saat Beliau hidup, Beliau pun mengangkat seorang penyair handal, Shahabat Hassan bin Tsabit yang sering melantunkan syair pujiannya untuk Beliau SAW. Sedangkan dalam pelaksanaan Maulid ini, pujian kepada Nabi dilantunkan secara bersama-sama agar terjalin Uhkuwah islamiyah yang kuat. Yaa Allah, kami berlindung deiri dari orang-orang yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi SAW diharamkan, bahkan menuduhkan dapat menyebabkan kemusyrikan.

2. Ziarah kubur dan mendoakan orang yang sudah mati

Ziarah kubur adalah mendatangi makam seseorang untuk mendoakan si mayit, hal ini sebenarnya bukanlah suatu Bid’ah melainkan Rasulullah dan para sahabatnya yang mengamalkannya. Memang pada permulaan tersebar agama Islam, ziarah kubur ini sempat dilarang oleh Beliau SAW untuk sementara,  karena  pada saat itu iman para sahabat masih sangat lemah dan ditakutkan nantinya akan menyembah kuburan. Apalagi kebiasaan masyarakat Arab saat itu, banyak yang membuat patung yang menyerupai si mayit, dan diletakkan di atas kuburannya.

Tetapi setelah iman  ummat Islam menjadi kuat, dan pemberantasan dan penghancuran patung-patung khususnya yang ada di kuburan, sudah merebak di kalangan keluarga ummat Islam, maka ziarah kubur  ini dihalalkan kembali, bahkan dianjurkan bagi umat Islam. Karena ziarah kubur itu dapat mengingatkan orang akan adanya kehidupan setelah mati, dan keselamatan akhirat lebih penting dari pada kehidupan dunia.

Sedangkan orang-orang Wahhabi/Salafi mengatakan bahwa ziarah kubur hukumnya haram dan doa kita tidak akan sampai kepada mayit. Mereka berdalil ayat alqur’an wa an laisa lilinsani illa ma sa’a  yang artinya: dan tidak ada bagi seorang manusia itu kecuali amalanya sdendiri. Jadi menurut mereka  apabila seseorang sudah mati, tidak bisa menerima kiriman pahala dari orang lain.

Padahal ayat ini menunjukkan bahwa orang yang sudah mati itu tidak dapat melanjutkan amal ibadahnya, sehingga tidak dapat menambah pundi-pundi pahala dengan upaya dari dirinya sendiri. Karena seluruh aktifitasnya seperti tatkala dia hidup, menjadi sudah selesai dengan kematiannya.

Namun, pahala itu dapat diperoleh dari shadaqah jariyah, seperti ikut membangun masjid, maka selagi masjid itu masih dimanfaatkan oleh umat Islam, maka si mayit mendapatkan kiriman pahalanya. Atau pahala anaknya yang berdoa untuk si mayit, demikian juga ilmu agama yang pernah diajarkannya kepada umat Islam, dan diamalkan pula oleh umat Islam, maka si mayit akan terus mendapatkan setoran pahalanya.

Sebagaimana hal itu telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang artinya: Apabila mati anak Adam atau manusia maka amalannya akan terputus kecuali tiga perkara, yang pertama yaitu shadaqah jariyah (shadaqah yang manfaatnya untuk ummat Islam), yang kedua yaitu ilmu yang bermanfaat, dan yang ketiga yaitu anak shaleh yang mendo’akannya. Dengan adanya hadits ini menjadi jelas, bahwa seseorang yang mati, masih bisa mendapatkan kiriman pahala dari amalan orang yang masih hidup.

Kaum Wahhabi/Salafi ini, biasanya mengaku-ngaku sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hambal, yang mana menurut mereka Imam Ahmad bin Hambal juga melarang seseorang membaca Alquran di atas kuburan mayit. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Memang pada awalnya Imam Ahmad bin  Hambal melarangnya  namun pada ahkirnya karena suatu pristiwa tatkala Imam Ahmad  bin Hambal bersama dengan Muhammad bin Qudamah Aljauhari,  ikut memakamkan seorang jenazah di sebuah  pekuburan,  sedangkan saat itu, di pekuburan tersebut terdapat seorang buta yang sedang membaca Al-Quran di atas makam kerabatnya, melihat hal ini Imam Ahmad bin Hambal langsung melarangnya. Mendengar larangan dari Imam Ahmad tersebut, orang buta itu menghentikan bacaan Al-qurannya. Namun Muhamad bin Qudamah mengatakan kepada Imam Ahmad.

Muhammad  :  “Ya Ahmad, apa pendapatmu tentang   Mubassyir Alhalabi“

Ahmad           : ”Dia dalah orang yang tsiqoh (sangat jujur)”

Muhammad : Ya Ahmad, Mubassyir telah mengabarkan kepadaku  dari Abdurahman bin Al alaa’ dari ayahnya, bahwa ayahnya telah berwasiat: Apabila aku dikuburkan, maka bacakan di dekat kepalaku dengan pembukaan surat Albaqarah dan penutupan surat Albaqarah karena aku mendengar Abdullah Bin Umar berwasiat seperti itu.. !

Ahmad      : Ayo kita kembali ke pekuburan dan megatakan ke orang buta itu agar meneeruskan bacaan Alqurannya.

Dengan peristiwa inilah Imam Ahmad bin Hambal kemudian memperbolehkan bagi orang yang  berziarah kubur untuk membaca Alquran serta doa-doa lainnya. Karena  itu sangat mustahil sekali apabila kaum Wahhabi/Salafi yang mengharamkankan ziarah kubur dan bacaan Alquran di atas kuburan ini, mengaku-ngaku  sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hambal. Karena Imam Ahmad sendiri ternyata membolehkanya. Apabila pembaca menginginkan reverensi tentang masalah ini, dapat dibaca pada kitab Tahqiqul amal karangan Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki.

3.Tawassul dan tabarruk

Tawassul adalah berdoa dengan menyebutkan nama orang sebagai perantara yang dianngap  dekat dengan Allah SWT, semisal membaca doa Yarabbibil Mustafa balligh maqasidana  waghfirlana mamadha ya wasi’al karami artinya: Ya allah, demi (tingginya kedudukan) Mustafa (Rasullullah SAW disisi-Mu), sampaikanlah hajat-hajat kami dan ampunilah kesalahan-kesalahan kami, Wahai Yang Maha Luas kemuliaan-Nya. Doa semacam ini sering dilakukan oleh kalangan umat Islam Ahlussunah wal Jama’ah

Tawassul seperti di atas oleh kaum Wahhab/Salafi yang mengaku-ngaku anti Bid’ah dilarang keras melakukannya, karena umat Islam oleh dituduh telah berbuat syirik kepada Allah, dan Rasullullah tidak pernah melakukannya. Padahal jika dicermati, tawassul ini bukanlah perbuatan syirik, karena bertawassul bukannya kita meminta kepada orang yang kita tawassuli, melainkan tetap meminta kepada Allah, sedang orang yang ditawassuli hanyalah sebagai wasilah atau  perantara doa tersebut agar cepat terkabul.

Hal ini jelas sangat masuk akal, sebagai contoh apabila kita ingin melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang mana kita tidak mengenal pemilik perusahaan tersebut, mungkin saja lamaran kita diterima tapi mungkin juga tidak diterima. Tetapi apabila kita memiliki seorang teman yang mana teman itu sangat akrab dengan pemilik perusahaan,  kemudian kita meminta  tolong agar kita diterima di perusahaan itu, maka kemungkinan diterima akan jauh lebih besar dari pada kita melamar sendiri.

Demikian pula dengan tawassul, Jika kita berdo’a kepada Allah secara langsung, maka mungkin doa kita diterima tapi juga mungkin tidak diterima, karena faktor kepribadian kita. Tetapi jika kita mencantumkan atau meminta tolong kepada orang yang sangat dekat dengan Allah, maka kemungkinan besar do’a kita akan diterima oleh Allah.

Adapun Rasullulah tidak pernah melakukanya, karena tidak ada orang yang lebih dekat dengan Allah melebihi kedekatan Beliau. Nabi SAW adalah orang yang paling dekat kepada Allah dan Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Allah. Bahkan  di dalam hadits qudsi, Allah berfirman yang artinya: Apabila bukan karena engkau ya Muhammad, Aku tidak menciptakan dunia seisinya. Karena itulah, tidak mungkin Rasullullah bertawassul, sebab doa Beliau pasti diterima oleh Allah. Sedangkan doa kita belum tentu diterima oleh Allah,  karena faktor banyaknya dosa yang kita lakukan. Dari sini kita tahu, bahwa bertawassul adalah salah satu cara yang telah terbukti ampuh dalam terkabulnya doa kita.

Kita perlu waspada terhadap tuduhan kaum Wahhabi/Salafi yang selalu memusyrikkan orang yang bertawassul dengan ketinggian kedudukan Rasululllah SAW. Apalagi jika mereka mengkafirkan umat Islam yang mengamalkan tawassul ini. Nabi SAW bersabda yang artinya: Barangsiapa yang menuduh seseorang dengan kekafiran atau dengan kefasikan, sedangkan tuduhannya itu meleset, maka kekafiran dan kefasikan itu kembali pada dirinya sendiri . Na’udubillahi min dzalik.


medio 20 April 09,Ribath

Ashabul Kahfi

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Ashabul Kahfi adalah salah satu kekauasaan Alloh SWT yang diabadikan Al Qur’an. 7 orang pemuda yang beriman kepada Alloh dan uzlah (meninggalkan lingkungannya) karena menyelamatkan iman dari tekanan raja yang dzolim (Raja Theodosius II). Alloh SWT menjaga komitmen keimanan 7 pemuda dengan membuatnya mereka tertidur selama 309 tahun di dalam gua namun kondisi fisik mereka tidak berubah sama sekali.

Kaum musyrikin Madinah atas inisiatif Yahudi menanyakan kepada Nabi tentang Ashabul Kahfi, Dzulkarnain dan tentang Ruh. Nabi Muhammad SAWW meminta delegasi musyrikin untuk datang kembali besok dan akan dijelaskan tentang 3 pertanyaan mereka. Nabi Muhammad SAWW tidak mengatakan Insya Alloh untuk janji yang disampaikan kepada delegasi musyrikin dan memastikan jawabannya besok hari. Rasulloh SAWW gundah karena sampai 14 hari tidak turun ayat yang dapat menjesakan 3 ikhwal tsb. Akhirnya turun ayat yang menjelaskan pertanyaan masyrikin dari Alloh SWT sekaligus teguran untuk senantiasa mengucapkan Insya Alloh untuk setiap pekerjaan/janji.

Mengucapkan Insya Alloh adalah sunnah yang dicontohkan. ‘Penyimpangan’ dalam penggunaan kata Insya Alloh untuk menghindar dari pekerjaan/janji adalah tanggung jawab pribadi yang melakukan dan bukan kesalahan kata Insya Alloh itu sendiri. Mengucapkan Insya Alloh disertai niat dan keinginan yang kuat untuk menunaikannya bukan malah berlindung dengannya untuk sengaja melupakannya. Kata Insya Alloh adalah janji yang kuat, bukan lip service atau sekedar mengumbar janji.

Setidaknya ada 3 lokasi yang diduga sebagai gua dimana 7 pemuda tersebut tertidur panjang, di Abu Alanda Jordan, Ephesus Turki dan Jabal Qassiyun Syria. Namun dari ketiga lokasi tsb, yang mendekati kebenaran adalah gua di Abu Alanda Jordania. Seorang penulis berkebangsaan melayu telah memberikan alasan-alasannya dalam blognya

Ceramah ini direkam dari pancaran radio streaming RASFM 95,5 pada hari kamis, 1 April 2010

—————————————————————–

Generasi Harapan [Pemuda Kahfi] by Izzatul Islam

Aaaa Aaaaaaa…
Dimana dicari pemuda Kahfi
Terasing demi kebenaran hakiki
Dimana jiwa pasukan Badar berani
Menoreh nama mulia perkasa abadi

Umat melolong di gelap kelam
Tiada pelita penyinar terang
Penunjuk jalan kini membungkam
Lalu kapankah fajar kan datang

Mengapa kau patahkan pedangmu
hingga musuh mamapu membobol betengmu
Menjarah menindas dan menyiksa
Dan kita hanya diam sekedar terpana

Bangkitkan negri lahirkan generasi
Pemuda harapan tumbangkan kedzaliman

Wajah dunia Islam kini memburam
Cerahkan dengan darahmu
Panji Islam telah lama terkuali
Menanti bangkit kepalmu

‘Aqiydatul ‘Awwam [part 1]

بسم الله الرحمن الرحيم

مقدمة

قال الناظم رحمه الله :

أبدأباسم الله والرحمن              وبالرحيم دائم الاحسان

المفردات :

الله: علم للذات الواجب الوجود المعبود بحق.

الرحمن: المنعم بجلائل النعم –أي أصولها- كالايمان والعافية والرزق والسمع والبصر، وغيرذلك.

الرحيم: المنعم بدقائق النعم –أي فروعها- كزيادة الايمان ووفورالنعمة،وسعةالرزق ودقةالعقل،وحدةالسمع والبصر، وغيرذلك.

دائم الاحسان: متتابع الاعطع والانعام من غير انقطاع.

الشرح :

أبدأ في تأليف هذه المنظومة ((عقيدة العوام)) بالبسملة مستعينا بالله عزوجل الذي وسعت رحمته كل شيء، وتتابع اعطاؤه وانعامه من غير انقطاع و لا انصرام.

أولا : اقتداء بالكتاب العزيز ترتيبا و لا نزولا.

ثانيا : عملا بما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم : ((كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع)). –أي ناقص وقليل الخير والبركة.

وثالثا : تأسيا بالنبي صلى الله عليه وسلم، فإنه يفتتح كتبه ورسائله بالبسملة كما جاء في كتابه صلى الله عليه وسلم إلى هرقل وغيره.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang-

Muqodimah / Pendahuluan

Telah berkata Pembuat Nazhom (Pengarang Kitab Aqiydatul Awam, Al-‘Alaamah As-Sayyid Ahmad Al-Marzukiy Al-Malikiy Rohimahullah) :

“Aku memulai dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang senantiasa terus menerus kebaikan-Nya” Read more…

Niat Ikhlas

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Dalam sebuah hadits yang masyhur kita diajarkan tentang pentingnya sebuah niat. Manusia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan. Tersembunyi dalam kalbu namun menjadi penentu diterima/ditolaknya satu amalan. Secara lahir kita dapat membungkus dan menampilkannya sesuai keinginan, namun secara bathin tidak ada yang tersembunyi dari Ilmu Alloh SWT.

Sesuatu yang diniatkan dengan ikhlash hanya mengharap keridhaanNYA, akan mendapat balasan sesuai/sebesar dengan sesuatu yang diniatkannya. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa seorang yahudi abid (ahli ibadah) mendapat pahala sedekah gandum gunung dari niat ikhlas sedekah yang sebenarnya belum sempat terealisasi.

Dalam ceramah ini sebagian besar diisi dengan shalawat dan do’a yang dipimpin oleh almarhum almaghfurlah KH. Abdullah Syafi’ie. Selamat mendengarkan

Ceramah radio ini direkam pada hari Selasa, tanggal 30 Maret 2010.

Kemerdekaan Diri

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Hakikat kemerdekaan tidak sebatas pada kemerdekaan diri dari segala macam tekanan dan penjajahan fisik di dunia. Kemerdekaan yang hakiki adalah kemerdekaan diri di dunia dan merdeka dari siksa akhirat. Mengakhiri hidup dengan kesuksesan, dalam keadaan husnul khotimah (akhir yang baik).

Direkam dari radio streaming RASFM pada hari Jum’at, 26 Maret 2010

Perilaku Curang

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Pembahasan mengenai tafsir surah Al Muthaffifien [QS 83] yang menjabarkan tentang perilaku curang yang dikecam keras. Perilaku yang sekilas sederhana [mengurangi sukatan/timbangan dan mengambil/menambahkan timbangan tanpa ridha penjual] sebenarnya dapat berujung pada neraka Wail. Sadar atau tidak banyak orang yang tertipu dengan tindakan tidak terpuji ini dan sekiranya ini dikonsumsi berarti mengikhlaskan diri tumbuh dengan barang haram. Na’udzubillah.

Direkam dari siaran streaming RASFM pada hari Kamis, 25 Maret 2010

Tentang Dakwah

Pembahasan kitab Ad Da’wah at Tammah oleh almarhum al maghfurlah KH. Abdullah Syafi’ie yang berkisah tentang seluk beluk dakwah. Perintah dan kewajiban dakwah tidak berhenti karena sedikitnya jumlah, tolakan orang yang didakwahkan atau kondisi yang bertolak belakang (penuh maksiyat) yang melingkupinya. Dakwah adalah kewajiban yang tetap harus dijalankan tanpa ada udzur.

Almarhum pernah membaca dalam sebuah kitab yang mengatakan bahwa sesungguhnya nasihat tidak bermanfaat bagi orang yang ditawan hawa nafsu/dikunci hatinya.

Dalam ceramah yang berdurasi sekitar 30 menit ini, almarhum juga mengingatkan untuk memberi nama anak kita dengan nama-nama yang baik. Beri mereka dengan nama Nabi-Nabi ‘alayhimus sholatu wa salam, nama-nama orang shalih, ulama dengan harapan anak-anak meniru akhlak mereka.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.